Bapak Ilmu Logika, Artistoteles - Mas Ifan News - Berita Hari Ini Terbaru
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Bapak Ilmu Logika, Artistoteles

Bapak Ilmu Logika, Artistoteles

Advertisement
Jangan lupa untuk selalu terkoneksi dengan kami dengan Follow IG @MasIfanNews, Fanspage @MasIfanNewsOffical dan juga Subscribe Channel Youtube Mas Ifan News
Aristoteles, Bapak Ilmu Logika
Mas Ifan News - Setiap benda bergerak menuju satu tujuan, dan keran benda itu tidak bisa bergerak dengan sendirinya, maka harus ada sesuatu yang menggerakkannya di mana penggerak itu juga harus punya penggerak lainnya. 

Hal itu terjadi secara sambung menyambung dan perputar-putar bagai lingkaran hingga pada tiba pada penggerak pertama  yang tak bergerak. Inilah yang disebut Theos dalam bahasa Yunani diejawantahkan sebagai Tuhan.

Meskipun pernyataan di atas cukup rumit dan membingungkan, namun sangat logis jika benar-benar dicermati. Itulah salah satu teori yang dicetuskan oleh Aristoteles sang Bapak Ilmu Logika.

Aristotele adalah salah satu filsuf Yunani Kuno yang namanya masih melegenda hingga sekarang.  Ia dilahirkan tahun 384 Sebelum Masehi di Stagira, sebuah kota yang terletak di wilayah Chalcidice. Thracia, Yunani.

Tempat kelahiran ristotekes itu dulu masih termasuk wilayah Macedonia bangian tengah. Ayah Aristoteles adalah seorang juru sembuh terkenal yang diangkat sebagai tabib pribadi Raha Amyntas dari Macedonia.

Menjelang ramaja, ketika berusia 17 tahun, Aristoteles berangkat ke Athena untuk belajar di Akademi Platonik. Sekolah ini dipimpin oleh Plato, filsud legendaris Yunani lainnya yang terkenal sebagai dedengkotnya ilmu etika, matematika, dan metafisika.

Aristoteles menjadi muid kesayangan Plato dan karena bakat yang dimiliki anak didiknya itulah Plato kemudian mengangkat Aristoteles menjadi salah satu guru di sekolahnya. Aristoteles cukup lama berkaries di Akademi Platonik, yakni lebih dari 20 tahun lamanya.

Setelah Plato wafat pada sekitar tahun 347 SM, Aristoteles pulang ke Macadonia. Nama besarnya ternyata menarik Raha Macadonia yang kemudian mengangkat Aristoteles sebagai guru untuk mendidik anak sanga raja.

Putra mahkota Macadonia tersebut kelak sangat kesohor dengan mana Alexander yang Agung.ketika Alexander naik tahta pada 336 SM, Aristoteles memutuskan untuk pergi ke Athena lagi. Disana, dengan dukungan dari Alexander, ia membangun akademi yang di pimpinnya sendiri.

Aristoteles memimpin Lyceum,nama akademi itu, sampai dengan tahun 323 SM
Aristoteles mengutamakan empirisme untuk menekankan pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan disusun atad dasar pengamatan. Ia telah menghasilkan banyak teori dan menulis tidak kurang 147 buku.

Bak ensiklopedi ilmu pengetahuan, pemikiran Aristoteles mencakup lintas ilmu, dari astronomi, anatomi, Biologi, embriologi, etika, geografi, geologi, Fisika, fisiologi,logika, matafisika, politik, sejarah, zoologi, bahkan hingga seni dan sastra.

Dibidang politik, misalnya, ia meyakini bahwa pemerintahan yang ideal adalah gabungan dari demokrasi dan monarki. Di ranah senia, ia berpendapat, sebuah karya seni yang baik adalah perwujudan artistik yang merupakan hasil chatarsis (percurahan kumpulan perasaan) yang diharmonisasikan dengan nilai estetis.

Tentang sejarah, Aristoteles memaknainya sebagai sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun secara kronologis di mana peristiwa masa lalu itu harus memiliki bukti-bukti yang valid. Selain itu, Aristoteles menjadi orang pertama yang mengumpulkan dan menggolongkan bernagai jenis spesies biologi secara sistematis.

Dari seabrek cabang ulmu yang dipelajari dan diajarkannya, pemikiran Aristoteles yang paling meninjol adalah di ilmu logika. Boleh dibilang, dasar berpikirnya adalah logika yangkemudian melahirkan banyak sekali bidang ilmu pengetahuan lainnya.

Aristoteles memang berbakat mengatur pla pikirnya, ia mampu merumuskan pemikiran yang mantap dan kemudian menjadi dasar berpikir pada banyak cabang ilmu yang lain. Logika Aristoteles sangankuat sehingga ia teidak pernah terjebak dalam pemikiran yang berbau mistik. Logika Aristoteles membuatnya menekankan hal-hal yang bersifat praktis dan nyata adanya.

Aristoteles mendasarkan logikanya pada sistem berpikir deduktif yang hingga kini masih dipercaya sebagai dasar dari setiap pemikiran tentang logika formal. Salah satu yang menarik dalam pemikiran Aristoteles adalah  silogisme untuk menarik kesimpulan baru dari dua kebenaran yang telah ada sebelumnya. Misalnya, ada premis mayor yang mengatakan “ setiap manusia pasti akan mati”, sedangkan premis minor menyatakan “orang itu adalah manusia”, maka kesimpulannya adalah “orang itu pasti akan mati”.

Tidak bis dipungkiri bahwa garis hidup Aristoteles sejalan dengan masa kejayaan Alexander yang pernah menjadi muridnyaitu. Runtuhnya kekuasaan Alexander yang Agung memicu perubahan iklimpolitik sehingga membuat Aristoteles harus memperhatikan keselataman dirinya. Pergantian kekuasaan yang terjadi di Macadonia dan Yunani memaksa Aristoteles ikut mengungsi bersama para pendukung Alexander lainnya. Ditempat pengungsian itulah Aristoteles menghembuskan napas penghabisan pada 322 SM.
Advertisement

Tags