Ini Dia Muslimah Pencipta Alat tes COVID-19 Tercepat Di Dunia - Mas Ifan News - Berita Hari Ini Terbaru
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ini Dia Muslimah Pencipta Alat tes COVID-19 Tercepat Di Dunia

Ini Dia Muslimah Pencipta Alat tes COVID-19 Tercepat Di Dunia

Advertisement
Jangan lupa untuk selalu terkoneksi dengan kami dengan Follow IG @MasIfanNews, Fanspage @MasIfanNewsOffical dan juga Subscribe Channel Youtube Mas Ifan News
Profesor Jackie Ying Dan Timnya ( Source )
Mas Ifan News - Alat uji virus Corona (COVID-19) atau yang biasa disebut atau dikenal dengan rapid test menjadi barang yang saat ini sangat dicari selama pandemi berlangsung.

Kabar baiknya, Singapura dikatakan merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil menciptakan alat itu. Hebatnya, rapid test yang diciptakan itu diklaim bisa memberikan hasil hanya dalam waktu 5 menit saja.

Seorang ilmuwan cerdas yang bernama Profesor Jackie Ying, ada di balik alat deteksi itu. Muslimah dari Singapura itu adalah kepala dari Lab NanoBio di Agency for Science, Technology and Research. Dan seperti apa kisahnya?, yuk simak kisahnya sampai selesai.

BEKERJA KERAS UNTUK BISA MENCIPTAKAN ALAT TEST INI

Profesor Jackie Ting yang memimpin Lab NanoBio di Agency for Science, Technology and Research itu benar-benar berjuang sangat keras agar bisa mendapatkan hasil alat test corona, yang bisa mendeteksi dengan cepat. tes ini mencari bahan genetik virus dalam sekresi pasien yang dikumpulkan dari kapas.

Source

Setelahnya, sampel dimasukkan ke dalam perangkat portabel yang bakal memberikan hasil dalam waktu hanya 5 sampai 10 menit. Kerja keras dalam membuat alat test itu benar-benar luar biasa. Profesor Ying dan tim ilmuwannya sudah bekerja tanpa mengenal lelah dalam waktu 6 minggu untuk bisa melakukan tes mempergunakan amplifikasi yang disebut "Cepat".

PROFESOR CERDAS YANG MEMILIKI BANYAK PRESTASI

Profesor Ying lahir di Taiwan pada 1966, dirinya bergabung dengan fakultas teknik kimia di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di tahun 1992, dan dinobatkan menjadi profesor termuda pada usia 35 di tahun 2001. pada tahun 2008, namanya masuk menjadi salah satu dari delapan insinyur wanita dalam daftar 100 insinyur di era modern versi American Institute of Chemical Engineers.

Source

Dari The Cooper Union dan Princeton University, masing-masing memberikan gelar B.E. dan Ph.D. dan menjadi Professor Teknik Kimia di tahun 2005 di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Di Singapura sendiri, Profesor Ying diangkat sebagai induk untuk Hall of Fame Wanita Singapura pada tahun 2014. Tumbuh dewasa di Singapura, membuat Profesor Ying memutuskan untuk menjadi seorang mualaf.

MENJADI MUALAF KETIKA TINGGAL DI SINGAPURE

Perjalannya menjadi mualaf bermula kala dirinya dan keluarga pindah ke Singapura. Ketika itu Ying masih berusia 7 tahun. Sang ayah sendiri adalah dosen Sastra Cina yang bekerja di Nanyang University, kampus paling ternama yang ada di Negeri Singa itu. Karena banyak berteman dengan etnis melayu Singapura yang notabene merupakan seorang muslim, membuat Ying pun akhirnya mendalami agama yang dianutnya sekarang ini.

Source

Pada usia 30 tahun, Ying kemudian memutuskan untuk menjadi mualaf dan memeluk agama Islam. Selain sisi religius sendiri, dirinya juga yakin bahwa kepercayaannya itu tidak terpisahkan dengan ilmu pengetahuan. "Setiap kali mendapatkan sebuah ilmu pengetahuan, selalu merujuk kepada keberadaan Allah SWT. Jadi, saya tidak berpikir jika keduanya (agama dan sains) bertentangan satu dengan yang lainnya," ucap Profesor Ying

DIANUGERAHI BANYAK PENGHARGAAN ATAS JASANYA SEBAGAI ILMUWAN

Dari jasa-jasa dan juga penelitian di bidang sains, Profesor Ying berhasil mendapatkan bermacam-macam penghargaan, seperti American Chemical Society di Solid-State Kimia, American Institute of Chemical Engineers (AIChE) Allan P. Colburn Award, penghargaan Teknologi Inaugural TR100 Young Innovator Award, International Union of Biokimia, dan Masyarakat Keramik Amerika Ross C. Purdy Award.

Source

Profesor Ying yang punya paten utama sebanyak 180 buah dan juga aplikasi paten, sudah melisensikan sebanyak 32 paten itu ke beberapa perusahaan multinasional dan perusahaan rintisan (start-Up) di bidang yang berhubungan dengan pengobatan dan kesehatan. Seperti, rekayasa sel dan jaringan, bio sensor, sistem pengobatan nano, implan medis dan juga perangkat medis.

Alat seperti  Rapid test untuk memindai gejala corona memang sangat dibutuhkan dalam situasi seperti saat ini. Seperti yang berhasil dilakukan oleh Profesor Jackie Ying bersama timnya, alat test yang diciptakannya itu berhasil menjadi alat test COVID-19 paling cepat di dunia dan sudah mendapatkan persetujuan dari pihak berwenang.
Advertisement

Tags